Skip to main content
Ahli Waris Perjuangkan Hak Kepemilikan Tanah di Desa Tanjung Sigoni
Ahli Waris Perjuangkan Hak Kepemilikan Tanah di Desa Tanjung Sigoni

Ahli Waris Perjuangkan Hak Kepemilikan Tanah di Desa Tanjung Sigoni

BATUBARA, Tuntasonline.com - Lahan seluas 10 Hektar berada di Desa Tanjung Sigoni, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batubara, tepatnya berada di Dusun Tanjung Selamat dan Sari Matua kepemilikannya munai tanda tanya.

Pasalnya, lahan tersebut mempunyai sejarah panjang pada masa silam dari Opung Baginda Parhimpunan Ritonga yang saat itu menjadi pemiliknya.

Entah apa penyebab lahan tersebut kini ditempati beberapa masyarakat bahkan sudah ada yang mempunyai surat alas hak tanah.

Aan Koto, SH Kuasa Hukum dari ahli waris Opung Baginda Parhimpunan, Senin (29/11/2021) menerangkan, asal usul kepemilikan lahan selebar 10 Hektar yang berada di Desa Tanjung Sigoni itu jelas milik ahli waris Opung Baginda Parhimpunan Ritongah yang dibuktikan dengan adanya pernyataan ahli waris dan fakta berdirinya kincir air 7 lobang dilahan itu.

Aan mengatakan, ada 24 orang ahli waris dari beliau yang diketuai oleh Fazri Ritongah sebagai pemberi kuasa. 

Dari 10 Hektar itu, ujar Aan, 3 Hektar berada di Dusun Sarimatua yang belum satupun masyarakat mempunyai Surat alas hak tanah, sedangkan 7 Hektar lagi berada di Dusun Tanjung Selamat yang sudah 25 orang memiliki surat alas hak tanah.

"Bukti kepemilikan tanah itu jelas, bisa dibuktikan dengan sejarah dan ada saksi yang menyatakan lahan itu milik ahli waris. Bahkan makam almarhum Opung Baginda Parhimpunan Ritonga bersama Istrinya berada dilahan itu," terang Aan.

"Saksi sudah mengakui, bahwa lahan itu punya ahli waris. Ia merupakan masyarakat yang dulunya tinggal dilahan itu, tetapi sekarang saksi itu sudah pindah karena dirinya tahu bahwa itu bukan miliknya," ungkap Aan.

Dijelaskannya, awal mulanya lahan tersebut digunakan oleh beliau untuk bercocok tanam padi dan palawija bahkan masyarakat diberi izin untuk menempati sementara, dengan syarat bangunan rumah tidak boleh permanen dan ketika ekonomi sudah mapan agar pindah tempat supaya masyarakat lain yang susah bisa bergantian menempatinya.

"Setelah meninggalnya Opung Baginda Parhimpunan Ritongah, masyarakat pendatang baru menggarap atau menguasai lahan itu dan ahli waris sendiri mengetahui hal itu setalah berkunjung kelahan milik opungnya," tuturnya.(Zfn/TO).

Facebook comments

Adsense Google Auto Size