Skip to main content
Dr
Dr H Rohidin Mersyah

Berdayakan Biji Kornel dan Pelabuhan Pulau Baai Untuk Ekspor, Menuju Petani Sawit Bengkulu Sejahtera

Bengkulu, TuntasOnline.com - Dr H Rohidin Mersyah memiliki cara tersendiri dalam mendorong komoditi Tandan Buah Segar Sawit (TBS) guna mengangkat kesejahteraan para petani.

Sosok Rohidin memang dikenal memiliki cara berbeda dalam mengemban amanah sebagai Gubernur Bengkulu dari Gubernur sebelumnya. Pola Gubernur di Bengkulu selama ini lebih identik dengan membagikan bantuan-bantuan yang sifatnya barang habis pakai dan cenderung tidak memberikan solusi tentang masalah yang tengah terjadi di tengah masyarakat. Dalam pengakuannya Rohidin menilai pola membagikan bantuan kepada masyarakat tidak tepat karena sifatnya sementara dan tidak mampu menyelesaikan persoalan.

Pada kesempatan kali ini kita akan mengulas persoalan sawit di Provinsi Bengkulu yang merupakan salah satu komoditas unggulan yang dimiliki Bengkulu. Tak bisa dipungkiri selama ini Harga Sawit di Bengkulu belum mencapai titik yang mampu mensejahterakan petani dan memaksa Rohidin berpikir keras mencari akar rumput permasalahan mengapa harga sawit Bengkulu lebih rendah dibanding daerah lain.

"Memang kepemimpinan saya ini berbeda dengan Gubernur sebelum saya, saya mengurangi hal yang bersifat bantuan namun saya hidupkan perekonomian masyarakat agar daya beli mereka meningkat," ujarnya.


Setelah melakukan penelusuran akar masalah, Rohidin menemukan titik masalah bahwa Sawit Bengkulu diekspor melalui Pelabuhan Belawan Sumatera Utara dan Teluk Bayur Sumatera Barat yang menyebabkan Sawit Bengkulu terkena Penalti dengan potongan harga Rp.300-400/Kilogramnya. Menyikapi hal ini Rohidin akhirnya berpikir keras untuk mengembangkan Pelabuhan Pulau Baai menjadi alur ekspor menghindari potongan harga sawit. Tak hanya itu Rohidin telah menyiapkan Terminal Curah Cair dengan kapasitas 5 Juta Ton Pertahun, inipun telah berprogres dan ditargetkan rampung di 2021. Pelabuhan Pulau Baai pun juga dikonekvitaskan dengan tol sehingga perekonomian kian hidup di kawasan tersebut.

"Untuk sawit, kenapa harga sawit kita rendah dibanding daerah lain karena selama ini sawit kita di ekspor melalui Belawan Sumatera Utara dan Teluk Bayur Sumatera Barat sehingga kita dapat penalti dengan potongan harga 300-400 rupiah perkilo. Inilah akar permasalahan sawit kita," papar Rohidin.

"Langkah yang saya lakukan yakni kita kembangkan pelabuhan kita dengan agar dapat mengekspor Sawit sendiri. Terminal curah cair kita bangun dan sudah berprogres ditargetkan di 2021 rampung. Nanti saya akan mengambil kebijakan kita stop ekspor sawit lewat pelabuhan lain dan akan kita ekspor melalui pelabuhan kita yang akan menaikan harga sawit dan ini sifatnya permanen," tuturnya.

*Berdayakan Produk Turunan Sawit, Biji Kornel*

Tidak hanya itu Rohidin juga memberdayakan produk turunan sawit dengan membangun Pabrik Pengolahan Biji Kornel di Pulau Baai dan sudah berprogres. Diketahui biji kornel selama ini diekspor ke daerah lain tanpa diolah terlebih dahulu sehingga tidak memberi kontribusi bagi peningkatan harga sawit. Menyikapi ini Rohidin membangun pabrik pengolahan biji kornel yang nantinya menjadi produk turunan  sawit dan akan mendorong peningkatan harga sawit hingga 75-100 Rupiah perkilo.

"Kita juga memberdayakan Produk turunan Sawit yakni Biji Kornel untuk diolah langsung di Pulau Baai, sebelumnya biji kornel ini diekspor ke Lampung tanpa memberikan dampak ekonomi bagi petani sawit. Untuk itu kita akan mengolahnya sendiri dan saya yakin akan berkontribusi menaikan harga sawit 75-100 rupiah perkilo," ujarnya.

"Apa yang saya katakan ini bukan janji, namun sudah saya kerjakan dan sudah berprogres. Terminal curah cair telah dalam proses penanaman tanki besar dan pabrik biji kornel dalam proses pembangunan. Kalau ibarat mengobati orang demam, kita tidak hanya memberi kompres tapi juga kita cari sumber penyakitnya," jelasnya.


Rohidin menilai jika upaya ini dilakukan maka daya beli masyarakat akan meningkat dan ekonomi akan menggeliat di tengah masyarakat.

"Kalau sawit mahal, saya rasa petani tidak butuh bantuan-bantuan lagi. Dampaknya sangat luar biasa karena daya beli meningkat, tidak hanya petani sawit yang merasakan, tapi yang lain juga seperti mamang tukang bakso laris, toko bangunan ramai, bahkan petani bisa menyetop truk yang mengangkut motor untuk membeli motornya langsung di tempat tersebut," tutup Rohidin.(ReTra)

Facebook comments

Adsense Google Auto Size